Teknostyle – Kalau kamu pikir lomba dayung itu cuma olahraga biasa, berarti kamu belum kenal Pacu Jalur. Ini bukan sekadar lomba perahu panjang—ini adalah karya seni budaya bergerak di atas sungai, penuh warna, semangat, dan kini… viral di mana-mana!
Tradisi ini datang dari Kuantan Singingi, Riau. Dulu, perahu panjang ini dipakai untuk transportasi barang dan orang. Tapi seiring waktu, masyarakat menjadikannya ajang lomba yang sarat makna budaya. Dan siapa sangka, di tahun 2025, Pacu Jalur tiba-tiba naik daun karena satu hal: TikTok!
Joget di Ujung Perahu: “Aura Farming” yang Menggetarkan Jagat Maya
Semua dimulai dari seorang bocah bernama Rayyan Arkan Dikha. Di video viralnya, ia berdiri di ujung perahu, berjoget penuh percaya diri sambil tetap menjaga keseimbangan perahu. Gerakannya luwes, ekspresinya percaya diri, dan energinya… ngena banget!
Anak-anak TikTok menyebutnya sebagai “aura farming”—sebuah istilah lucu tapi pas, menggambarkan bagaimana karisma bisa muncul dari hal sederhana. Dari sinilah jutaan orang mulai penasaran: Apa sih ini sebenarnya?
Pacu Jalur Itu Apa, Sih?
Bayangkan sebuah perahu super panjang—bisa sampai 25 sampai 40 meter—yang dikayuh bareng oleh 50 hingga 60 orang. Jalurnya bukan di sirkuit atau jalan raya, tapi di sungai alami: Sungai Batang Kuantan.
Setiap tim biasanya berasal dari desa-desa sekitar, dan masing-masing jalur punya desain unik. Ada ukiran naga, ada yang berwarna cerah seperti pelangi, dan semuanya membawa identitas kebanggaan komunitas mereka.
Tapi bukan cuma pendayung yang menarik perhatian. Di bagian depan perahu, berdiri satu orang penari—biasanya anak muda seperti Rayyan—yang tugasnya bukan cuma pamer skill tari, tapi juga jadi motivator tim!
Festival yang Penuh Semangat dan Warna
Pacu Jalur biasanya digelar setiap bulan Agustus. Festival ini bukan cuma tentang siapa yang menang lomba dayung, tapi tentang rasa kebersamaan dan kemeriahan. Penonton datang dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri, buat menyaksikan momen langka ini.
Di sekitar sungai, banyak stan makanan, suvenir, dan pertunjukan seni. Pokoknya, suasananya kayak festival musik—tapi di pinggir sungai dan penuh nuansa lokal!
Dari Sungai ke Dompet Warga: Dampak Ekonominya Wow Banget!
Nggak main-main, dampak ekonomi dari festival Pacu Jalur bisa mencapai puluhan miliar rupiah. Penginapan penuh, warung laku keras, dan UMKM panen rezeki. Bahkan perahu jalur sendiri biayanya bisa tembus Rp 100 juta—dan itu dibiayai rame-rame sama warga, loh. Gotong royongnya kuat banget!
Bayangin aja: satu tradisi lokal yang hidup berabad-abad, kini jadi sumber ekonomi baru buat masyarakat setempat. Semua karena kolaborasi antara budaya, teknologi, dan semangat komunitas.
Ketika Dunia Mulai Melirik Pacu Jalur
Efek viral ini membuat media dari berbagai negara mulai meliput Pacu Jalur. Tapi, tentu aja, nggak semua kabar menyenangkan. Beberapa media luar sempat keliru, bahkan ada yang “salah klaim” bahwa tradisi ini milik mereka.
Untungnya, Pemprov Riau langsung bergerak cepat. Pacu Jalur sudah didaftarkan ke UNESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda milik Indonesia. Jadi kalau ada yang coba ngaku-ngaku, siap-siap diserang netizen lokal dengan fakta sejarah .
Buat kamu yang belum pernah ke Riau, ini waktunya mulai cari tiket dan bikin itinerary. Pacu Jalur bukan cuma tontonan, tapi pengalaman budaya yang autentik. Kamu bisa lihat perahu panjang meluncur, nonton tarian tradisional, icip makanan khas Kuansing, sampai belajar langsung tentang filosofi di balik tradisi ini.
Dan buat yang nggak bisa datang langsung? Tenang. Kamu bisa bantu dengan share konten positif, bikin video edukatif, atau bahkan bikin karya kreatif terinspirasi dari Pacu Jalur. Siapa tahu kamu jadi kreator berikutnya yang “aura farming”-nya bikin dunia makin kenal budaya kita!
Pacu Jalur membuktikan bahwa budaya lokal Indonesia itu nggak kalah keren dari festival mancanegara. Bahkan, kadang yang kita anggap biasa, bisa jadi luar biasa di mata dunia.
Jadi yuk, dukung terus budaya lokal, apresiasi tradisi yang udah turun-temurun, dan buktikan bahwa Indonesia bisa mendunia—dari sungai kecil di Kuansing, hingga ke layar jutaan orang di seluruh dunia. (Be)







