Teknostyle – Banyak pria menganggap sering terbangun pada malam hari untuk buang air kecil sebagai hal yang wajar, terutama ketika usia bertambah. Padahal, kebiasaan tersebut bisa menjadi sinyal adanya gangguan kesehatan yang tidak boleh diabaikan, salah satunya pembesaran prostat.
Selain mengganggu waktu istirahat, kondisi ini dapat menurunkan produktivitas, memengaruhi kualitas hidup, bahkan berdampak pada hubungan dengan pasangan. Karena itu, mengenali gejalanya sejak dini menjadi langkah penting agar penanganan dapat dilakukan sebelum muncul komplikasi yang lebih serius.
Jangan Anggap Remeh Gejala yang Muncul
Elita Wibisono, Dokter Spesialis Urologi yang berpraktik di Primaya Hospital Kelapa Gading, menjelaskan bahwa pembesaran prostat terjadi ketika kelenjar prostat membesar dan menekan saluran kemih. Kondisi tersebut membuat aliran urine melemah, muncul rasa tidak tuntas setelah buang air kecil, hingga urine masih menetes setelah selesai berkemih. Sayangnya, banyak pria masih menganggap gejala tersebut sebagai bagian normal dari proses penuaan.
Salah satu tanda yang paling sering muncul ialah nokturia, yaitu kondisi ketika seseorang harus berulang kali bangun pada malam hari untuk buang air kecil. Gejala ini bukan hanya mengurangi kenyamanan saat tidur, tetapi juga memengaruhi kesehatan secara keseluruhan.
Gangguan Tidur Berdampak pada Aktivitas Sehari-hari
Menurut dr. Elita, pria yang harus bangun tiga hingga lima kali setiap malam akan kehilangan waktu tidur berkualitas. Akibatnya, tubuh lebih mudah lelah, konsentrasi menurun, dan produktivitas sehari-hari ikut terganggu.
Kurang tidur yang berlangsung terus-menerus juga dapat memengaruhi kondisi fisik maupun mental. Aktivitas kerja menjadi kurang optimal, sementara tubuh membutuhkan waktu lebih lama untuk memulihkan energi.
Tak Hanya Menyerang Fisik, tetapi Juga Kualitas Hidup
Dampak pembesaran prostat tidak berhenti pada gangguan berkemih. Kondisi ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan.
Gangguan tidur kronis akibat sering bolak-balik ke kamar mandi pada malam hari tidak hanya dirasakan oleh pasien, tetapi juga pasangan yang tidur bersamanya. Selain itu, rasa frustrasi karena sulit buang air kecil dapat menurunkan kepercayaan diri dan memengaruhi suasana hati.
“Kesehatan prostat sangat berkaitan dengan kualitas hidup dan keharmonisan pasangan. Ketika gejalanya terus mengganggu aktivitas sehari-hari, rasa percaya diri pria dapat menurun dan akhirnya memengaruhi hubungan interpersonal maupun kehidupan seksual,” jelas dr. Elita.

Gaya Hidup Sehat Membantu Menjaga Prostat
Meski faktor usia tidak bisa dihindari, setiap pria tetap dapat menjaga kesehatan prostat melalui pola hidup yang lebih sehat.
Dr. Elita menyarankan masyarakat untuk rutin beraktivitas fisik, mempertahankan berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayuran hijau serta tomat yang kaya likopen, dan membatasi konsumsi daging merah olahan. Kebiasaan tersebut dapat membantu memperlambat perkembangan gangguan prostat sekaligus menjaga kesehatan saluran kemih dalam jangka panjang.
Penanganan Kini Lebih Nyaman Berkat Teknologi Minimal Invasif
Perkembangan teknologi medis membuat penanganan pembesaran prostat menjadi semakin nyaman. Saat ini, dokter dapat melakukan prosedur minimal invasif seperti TURP maupun Rezum tanpa sayatan pada bagian perut sehingga pasien dapat menjalani masa pemulihan yang lebih cepat.
Namun, keberhasilan terapi tetap bergantung pada seberapa cepat pasien memeriksakan diri setelah gejala muncul.
Segera Periksa Jika Gejala Mulai Terasa
Dokter menyarankan pria untuk segera berkonsultasi apabila mulai mengalami perubahan pancaran urine, merasa tidak tuntas setelah buang air kecil, terbangun lebih dari dua kali setiap malam untuk berkemih, atau mengalami nyeri maupun muncul darah saat buang air kecil.
Sebagai upaya mendukung deteksi dini, Primaya Hospital juga menghadirkan paket skrining kesehatan saluran kemih dan prostat yang membantu masyarakat mengenali gangguan sejak tahap awal.
Deteksi Dini Membantu Menjaga Kualitas Hidup
Dr. Elita mengingatkan masyarakat agar tidak menunggu hingga kondisi memburuk atau muncul komplikasi pada ginjal. Menurutnya, pembesaran prostat bukanlah kondisi yang harus diterima begitu saja sebagai bagian dari proses menua.
Dengan pemeriksaan rutin, deteksi dini, dan penanganan yang tepat, pria tetap dapat menjaga produktivitas, kesehatan, serta keharmonisan bersama pasangan. Menjaga kesehatan prostat bukan hanya soal mengatasi gangguan berkemih, tetapi juga menjaga kualitas hidup dalam jangka panjang.







