Teknostyle – Ajang ARCH:ID 2026 kembali menghadirkan eksplorasi baru dalam dunia arsitektur. Tahun ini, tema “Skema Sintesa: Integrasi Kolaboratif Arsitektur” mengajak berbagai disiplin untuk menyatu dalam satu kesatuan. Dalam semangat tersebut, in-Lite LED menghadirkan Paviliun Cahya, sebuah instalasi yang mengubah cara kita memandang cahaya dalam ruang.
Paviliun ini tidak sekadar menampilkan pencahayaan sebagai elemen tambahan. Tim kreatif menjadikan cahaya sebagai bagian utama yang membentuk pengalaman ruang. Cahaya, material, budaya, dan arsitektur saling terhubung dan menciptakan narasi yang utuh.
Eksplorasi Cahaya sebagai Pengalaman Ruang
Melalui Paviliun Cahya, in-Lite LED menghadirkan perjalanan visual yang imersif. Instalasi ini mengajak pengunjung merasakan transformasi cahaya dalam tiga tahap. Pengalaman dimulai dari kegelapan total, berlanjut ke suasana temaram, lalu berakhir pada ruang terang yang penuh energi.
Setiap fase menghadirkan sensasi berbeda. Indera pengunjung aktif secara bertahap, sehingga mereka bisa memahami bagaimana cahaya membentuk persepsi ruang. Pendekatan ini membuat cahaya terasa hidup, bukan sekadar sumber penerangan.
Inspirasi dari Arsitektur Nusantara
Arsitek sekaligus desainer paviliun, Jessica Soekidi, mengangkat nilai arsitektur Nusantara sebagai fondasi konsep. Ia menyoroti bagaimana leluhur Indonesia telah lama memahami hubungan antara cahaya, ruang, dan alam.
Rumah panggung hingga candi menunjukkan cara cerdas dalam mengelola cahaya alami. Paviliun ini menerjemahkan kearifan tersebut ke dalam pendekatan kontemporer. Hasilnya, pengunjung merasakan pengalaman yang relevan sekaligus sarat makna budaya.

Kolaborasi Perempuan dalam Dunia Arsitektur
Paviliun Cahya juga membawa pesan kuat tentang peran perempuan. Seluruh kolaborator dalam proyek ini berasal dari perempuan yang berkontribusi aktif dalam proses kreatif. Pendekatan ini memperkuat nilai inklusivitas dalam dunia arsitektur.
Menurut Fransiska Darmawan, proyek ini terinspirasi dari pemikiran R.A. Kartini. Semangat kolaborasi dan kesetaraan menjadi bagian penting dalam proses penciptaannya.
Data dari Ikatan Arsitek Indonesia menunjukkan bahwa jumlah arsitek perempuan masih sekitar 20 persen dari total anggota. Kondisi ini membuka peluang besar untuk memperluas peran perempuan di industri ini.
Cahaya sebagai Elemen Utama, Bukan Pelengkap
Banyak orang masih menempatkan pencahayaan sebagai tahap akhir dalam desain. Padahal, integrasi sejak awal mampu menciptakan ruang yang lebih kuat dan berkarakter.
Inka Dharmawan menegaskan bahwa pendekatan ini mulai berkembang. Klien kini lebih sadar akan pentingnya pencahayaan yang terintegrasi dan dirancang secara menyeluruh.
Paviliun Cahya membuktikan bahwa cahaya dapat menjadi elemen utama yang membentuk pengalaman ruang. Pendekatan ini mendorong perubahan cara berpikir dalam dunia desain arsitektur.
Kolaborasi Material dan Inovasi Desain
Kesuksesan paviliun ini juga didukung oleh berbagai mitra, termasuk TACO. Brand ini menghadirkan berbagai material interior seperti HPL, flooring, hingga wall panel yang memperkuat pengalaman visual.
Kolaborasi ini menunjukkan bahwa desain ruang tidak hanya bergantung pada satu elemen. Material, cahaya, dan konsep harus saling mendukung untuk menciptakan pengalaman yang utuh.







