Teknostyle – Film Indonesia kembali menghadirkan cerita religi dengan pendekatan yang dekat dengan kehidupan anak muda. Seni Merayu Tuhan mengajak penonton mengikuti perjalanan Hikmah dalam menghadapi kehilangan dan pencarian spiritual. Film ini tayang serentak di bioskop Indonesia sejak 13 Agustus 2026.
Film garapan Cesa David Luckmansyah tersebut mengadaptasi buku karya Habib Husein Ja’far Al Hadar. Salman Aristo, Gina S. Noer, dan Rino Sarjono turut mengembangkan skenario film.

Ketika Kehilangan Mengubah Arah Hidup
Cerita berpusat pada Hikmah, pemuda yang menjalani kehidupan tanpa banyak memikirkan keluarga dan spiritualitas. Ia lebih sering menghabiskan waktu bersama kekasihnya, Sophia, serta lingkungan pergaulannya.
Hubungan Hikmah dengan sang ibu juga tidak berjalan baik. Ia sering mengabaikan pesan dan perhatian ibunya, bahkan menjauh dari ajakan beribadah.
Situasi berubah drastis setelah sang ibu meninggal dunia. Kehilangan tersebut menghadirkan penyesalan sekaligus mengguncang cara Hikmah memandang kehidupannya.
Hikmah kemudian memulai perjalanan untuk memahami kembali arti keimanan. Ia juga mencoba berdamai dengan rasa kehilangan dan menemukan kembali kedekatan dengan Tuhan.
Bukan Sekadar Film Religi
Menariknya, Seni Merayu Tuhan tidak hanya mengangkat persoalan ibadah. Ceritanya juga menyentuh hubungan anak dan orang tua, persahabatan, cinta beda agama, serta proses pendewasaan.
Teuku Ryzki yang memerankan Hotib bahkan melihat film ini sebagai ruang refleksi bagi penonton. Menurutnya, penonton tidak perlu melihat film tersebut hanya dari sudut pandang agama.
“Harapan kami, film ini tidak hanya dipandang sebagai film religi. Film ini memiliki makna yang lebih luas daripada itu,” ujar Teuku Ryzki.
Pendekatan tersebut membuat film terasa lebih dekat dengan pengalaman banyak anak muda. Rasa kehilangan, penyesalan, pencarian arah hidup, dan hubungan keluarga menjadi tema yang universal.
Ari Irham Hadapi Peran yang Emosional
Ari Irham mendapat tantangan besar ketika memerankan Hikmah. Ia harus menggambarkan karakter yang mengalami kebingungan setelah kehilangan sosok penting dalam hidupnya.
Perjalanan karakter tersebut membuat Ari mengeksplorasi berbagai emosi. Ia menghadirkan rasa duka, kebingungan, hingga sikap impulsif dalam perjalanan Hikmah.
Sementara itu, Lutesha memerankan Sophia, kekasih Hikmah yang memiliki latar agama berbeda. Rieke Diah Pitaloka hadir sebagai ibu Hikmah dan menjadi salah satu tokoh penting dalam perjalanan emosional cerita.
Film ini juga menghadirkan Teuku Ryzki, Sita Nursanti, Onadio Leonardo, Alfie Alfandi, Arie Kriting, dan Habib Jafar. Deretan pemeran tersebut memperkaya cerita dengan karakter yang memiliki latar dan persoalan berbeda.

Dari Buku ke Layar Lebar
Salah satu hal menarik dari film ini terletak pada proses adaptasinya. Buku Seni Merayu Tuhan terbit pada 2019 dan kemudian berkembang menjadi karya sinema. Perjalanan tersebut mempertemukan dunia literasi dengan industri kreatif perfilman.
Habib Jafar juga terlibat langsung dalam proses pengembangan skenario. Ia mengikuti proses penulisan hingga 14 draf untuk menjaga nilai dan visi buku.
Keterlibatan tersebut menunjukkan keseriusan tim dalam mempertahankan pesan utama karya. Film ini juga menjadi bagian dari upaya Habib Jafar memperluas dakwah melalui medium layar lebar.
Dengan durasi 115 menit, film ini menawarkan drama yang menggabungkan sisi spiritual dan persoalan kehidupan sehari-hari.
Seni Merayu Tuhan pada akhirnya tidak hanya mengajak penonton melihat perjalanan Hikmah. Film ini juga mengajak kita mempertanyakan hubungan dengan keluarga, kehidupan, kehilangan, dan Tuhan.
Bagi penonton yang menyukai drama dengan sentuhan emosional dan reflektif, film ini menawarkan cerita yang cukup relevan. Seni Merayu Tuhan kini dapat disaksikan di bioskop Indonesia.







