Teknostyle – Jakarta menjadi saksi penampilan perdana Kanye West di Indonesia pada Sabtu malam, 24 Oktober 2026. Rapper asal Amerika Serikat tersebut menggelar konser bertajuk Ye Live in Jakarta di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK).
Puluhan ribu penonton memadati stadion untuk menyaksikan langsung musisi yang kini menggunakan nama panggung Ye. Konser ini juga menjadi satu-satunya pemberhentian turnya di kawasan Asia Tenggara.
Panggung Globe Raksasa Buka Pertunjukan Megah
Ye membuka konser dengan lagu “King” dari album terbarunya, BULLY. Kemunculannya langsung memancing sorakan penonton yang memenuhi area stadion.
Ia tampil mengenakan busana berwarna krem dan penutup wajah. Kembang api yang meluncur dari sisi panggung menandai dimulainya pertunjukan.
Daya tarik utama konser ini terletak pada Giant World Globe Stage. Panggung berbentuk kubah raksasa tersebut menghadirkan konsep visual 360 derajat dengan gambar bumi yang berputar.
Promotor Raw Vision Collective mendatangkan struktur panggung tersebut langsung dari luar negeri. Permainan visual, pencahayaan laser, dan kembang api melengkapi pertunjukan sepanjang hampir dua jam.
Dari “Praise God” hingga “Runaway”
Sepanjang konser, Ye membawakan sekitar 32 lagu dari berbagai fase kariernya. Deretan lagu tersebut mencakup “Praise God”, “Heartless”, “Jesus Walks”, “Stronger”, dan “Bound 2”.
Lagu “Carnival” juga masuk dalam daftar penampilan malam itu. Setiap lagu menghadirkan perpaduan musik, visual panggung, dan pencahayaan dengan atmosfer berbeda.
Saat membawakan “Blood on the Leaves”, panggung berubah menjadi merah menyala. Sementara itu, visual bumi yang berputar semakin cepat mengiringi lagu “Stronger”.
Ye kemudian menutup pertunjukan dengan “Runaway”. Lagu ikonis tersebut menjadi momen emosional ketika penonton ikut bernyanyi bersama di tengah megahnya panggung GBK.
Visual Megah, tetapi Minim Interaksi
Meski menghadirkan produksi panggung berskala besar, Ye tidak banyak berinteraksi langsung dengan penonton. Ia hampir tidak menyampaikan sapaan atau percakapan sepanjang pertunjukan.
Ye lebih mengandalkan musik, gestur, dan visual untuk membangun suasana konser. Sesekali, ia mengajak penonton melompat atau mengangkat tangan mengikuti irama.
Pendekatan tersebut menghadirkan pengalaman konser yang berbeda dari pertunjukan dengan banyak interaksi spontan. Sebagian penonton menikmati kemegahan produksinya, sementara kedekatan langsung dengan sang musisi bukan menjadi fokus utama.
Meski begitu, antusiasme penonton tetap terasa hingga lagu terakhir. Puluhan ribu penggemar bernyanyi dan bergoyang mengikuti penampilan Ye di tengah stadion.
Penggemar Rela Terbang dari Luar Negeri
Konser Ye di Jakarta juga menarik perhatian penggemar internasional. Salah satunya Joaquin, penonton asal Australia yang sengaja terbang dari Perth untuk menyaksikan musisi favoritnya.
“Tadi juga konsernya seru banget, lagu-lagu favoritku dinyanyikan, ada banyak kembang api, dan set panggungnya megah,” ujar Joaquin, Sabtu malam.
Kehadiran penggemar mancanegara menunjukkan daya tarik Jakarta sebagai tujuan konser internasional. Status Jakarta sebagai satu-satunya pemberhentian tur Ye di Asia Tenggara turut memperluas jangkauan audiensnya.
Konser Ye Ikut Menggerakkan Ekonomi Jakarta
Dampak konser tidak hanya terasa di dalam stadion. Kehadiran penonton turut mendorong aktivitas transportasi, perhotelan, restoran, dan sektor usaha lainnya.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memperkirakan konser Ye menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp450 miliar. Angka tersebut mencakup penjualan tiket dan belanja pengunjung sebelum maupun setelah konser.
Bersama Jakarta Running Festival 2026, rangkaian acara akhir pekan itu menghasilkan perputaran ekonomi sekitar Rp625 miliar. Angka tersebut memperlihatkan potensi acara berskala internasional dalam menggerakkan ekonomi kreatif dan pariwisata.
Konser Ye Live in Jakarta akhirnya menghadirkan pengalaman yang bertumpu pada musik dan kemegahan produksi visual. Panggung globe raksasa, kembang api, serta lagu-lagu ikonis menjadi daya tarik utama malam itu.
Meski interaksi Ye dengan penonton terbatas, konser tersebut tetap menciptakan momen yang dinantikan para penggemarnya. Jakarta pun menorehkan catatan penting sebagai tuan rumah konser perdana Ye di Indonesia.






