Teknostyle – Kimpul mendadak menjadi bahan makanan yang ramai diperbincangkan di media sosial. Umbi lokal ini bahkan sempat menjadi trending topic di X setelah muncul dalam berbagai konten kuliner.
Popularitas kimpul meningkat setelah kreator asal Bantul membagikan berbagai kreasi makanan berbahan dasar umbi tersebut. Uniknya, kimpul tidak hanya diolah menjadi makanan tradisional, tetapi juga menggantikan bahan seperti kentang, nasi, hingga daging dalam sejumlah hidangan.
Sebenarnya, Apa Itu Kimpul?
Kimpul merupakan umbi dari genus Xanthosoma, terutama spesies Xanthosoma sagittifolium. Umbi ini masih berada dalam keluarga Araceae atau kelompok tanaman talas-talasan. Kimpul juga dikenal dengan sejumlah nama lain, seperti talas Belitung, bentul, bothe, dan genjlong.
Meski sekilas mirip talas, kimpul dan talas sebenarnya merupakan tanaman berbeda. Talas umumnya berasal dari genus Colocasia, sedangkan kimpul berasal dari genus Xanthosoma.
Setelah dimasak, kimpul memiliki tekstur yang lembut, pulen, dan sedikit masir. Rasanya cenderung gurih dengan sentuhan manis alami sehingga cukup fleksibel untuk berbagai jenis masakan.
Kimpul Bisa Diolah Jadi Makanan Kekinian
Salah satu alasan kimpul menjadi viral adalah kemampuannya menggantikan bahan makanan yang lebih populer. Kreator kuliner tersebut bahkan mengolah kimpul menjadi mashed potato, lasagna, dumpling, hingga berbagai camilan.
Kreativitas tersebut membuktikan bahwa pangan lokal tidak harus tampil dalam bentuk tradisional. Dengan pengolahan yang tepat, kimpul dapat masuk ke berbagai resep modern dan menghasilkan hidangan yang tidak kalah menarik.
Selain makanan kekinian, kimpul juga dapat diolah menjadi gethuk, keripik, kolak, dan tepung. Tepung kimpul kemudian dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat mi, brownies, hingga kue kering.
Alternatif Sumber Karbohidrat
Kimpul juga menarik perhatian karena potensinya sebagai sumber karbohidrat lokal. Umbi ini dapat menjadi salah satu alternatif pangan selain nasi, kentang, atau singkong.
Kandungan seratnya juga menjadi salah satu keunggulan kimpul. Karena itu, mengembangkan olahan kimpul dapat mendukung diversifikasi pangan dan memperkenalkan kembali bahan pangan lokal kepada generasi muda.
Namun, kimpul tidak boleh dikonsumsi sembarangan. Umbi ini perlu dimasak dengan benar untuk mengurangi lendir dan senyawa yang dapat menimbulkan rasa gatal pada mulut atau tenggorokan.
Dari Pangan Lokal Menjadi Tren Kuliner
Fenomena kimpul menunjukkan bagaimana media sosial dapat mengangkat kembali bahan pangan yang sebelumnya kurang populer. Kreativitas dalam mengolahnya membuat masyarakat kembali penasaran dengan umbi yang sebenarnya sudah lama dimanfaatkan di Indonesia.
Kimpul kini tidak sekadar dipandang sebagai pangan tradisional. Umbi ini mulai hadir dalam berbagai kreasi makanan modern yang lebih dekat dengan selera generasi masa kini.
Tren tersebut juga menjadi pengingat bahwa Indonesia memiliki banyak sumber pangan lokal yang menarik untuk dieksplorasi. Siapa sangka, umbi yang selama ini kurang dilirik justru bisa menjadi salah satu bahan makanan yang paling hits di media sosial?






