Teknostyle – Avenged Sevenfold sukses mengguncang Jakarta International Stadium (JIS), Jakarta Utara, pada Sabtu (10/10/2026). Konser bertajuk Avenged Sevenfold Live in Indonesia menghadirkan malam penuh nostalgia, kejutan, dan energi metal yang membara.
M. Shadows dan kawan-kawan mengajak puluhan ribu penggemar bernostalgia melalui lagu-lagu ikonis mereka. Dari “Nightmare” hingga “Dear God”, setiap penampilan memancing teriakan dan nyanyian massal para Deathbat, sebutan bagi penggemar Avenged Sevenfold.
1. St. Loco dan Isyana Sarasvati Panaskan Panggung
Sebelum penampilan utama, St. Loco dan Isyana Sarasvati membuka kemeriahan konser. Kedua musisi Indonesia tersebut membangun atmosfer sebelum Avenged Sevenfold mengambil alih panggung sekitar pukul 20.58 WIB.
Antusiasme penonton langsung memuncak ketika intro “Nightmare” terdengar. Efek visual, semburan api, dan distorsi gitar mengawali pertunjukan dengan atmosfer yang intens.
Penonton pun langsung bernyanyi bersama sejak lagu pembuka. Suara koor dari berbagai sudut stadion membuat penampilan A7X terasa semakin megah.
2. Sempat Terhenti karena Masalah Pedal Drum
Konser sempat mengalami jeda setelah lagu pertama karena pedal drum Brooks Wackerman mengalami kerusakan. Momen tak terduga itu menjadi salah satu cerita menarik dari pertunjukan malam tersebut.
Meski sempat terhenti, pertunjukan kembali berlanjut dengan energi yang tetap tinggi. “Magic”, “Afterlife”, “Shepherd of Fire”, dan “Buried Alive” kemudian menghidupkan kembali atmosfer JIS.
Penonton di area festival ikut melompat dan melakukan moshing mengikuti hentakan musik. Sementara itu, penonton di tribun turut menyanyikan bagian-bagian ikonis dari lagu favorit mereka.
3. “So Far Away” Jadi Penghormatan untuk The Rev
Salah satu momen emosional hadir ketika Avenged Sevenfold membawakan “So Far Away”. Lagu tersebut menjadi penghormatan bagi James Owen Sullivan, atau The Rev, mantan drummer yang meninggal pada 2009.
Lagu ini membawa suasana berbeda di tengah rangkaian musik keras sepanjang konser. Bagi penggemar lama, “So Far Away” menjadi pengingat perjalanan panjang Avenged Sevenfold sekaligus sosok penting dalam sejarah band tersebut.
4. “M.I.A.” dan “Gunslinger” Jadi Kejutan untuk Deathbat
Avenged Sevenfold juga menghadirkan kejutan melalui “M.I.A.” dan “Gunslinger”. Kedua lagu tersebut menambah daya tarik setlist yang memadukan materi populer dengan pilihan yang dinantikan penggemar.
Energi kembali meningkat ketika band membawakan “Nobody”, “Hail to the King”, dan “Bat Country”. Penampilan “Unholy Confessions” semakin memanaskan suasana melalui bagian penutup yang menampilkan solo drum.
Setlist ini memperlihatkan perjalanan musik A7X dari album Waking the Fallen, City of Evil, hingga Life Is But a Dream…. Perpaduan lintas era tersebut memberi pengalaman berbeda bagi penggemar lama maupun pendengar generasi baru.
5. “Dear God” Menghidupkan Nostalgia Era Warnet
Momen yang paling dekat dengan kenangan banyak penggemar hadir ketika Avenged Sevenfold membawakan “Dear God”. Lagu dari album Avenged Sevenfold (2007) itu mengajak penonton kembali ke era ketika musik A7X akrab dengan keseharian anak warnet.
Penonton bernyanyi bersama mengikuti melodi yang lembut dan lirik yang emosional. Kontras dengan lagu-lagu metal berenergi tinggi, “Dear God” menghadirkan suasana hangat di tengah stadion.
Avenged Sevenfold kemudian menutup rangkaian lagu dengan “Cosmic”. Penampilan tersebut melengkapi malam penuh kejutan dan nostalgia bagi para penggemar di Jakarta.
6. M. Shadows Ingin Kembali ke Kota Lain di Indonesia
Tak hanya musik, interaksi M. Shadows dengan penonton juga menjadi sorotan. Vokalis Avenged Sevenfold itu menyampaikan keinginan band untuk tampil di lebih banyak kota di Indonesia, bukan hanya Jakarta.
Ia menyebut Yogyakarta dan Bali sebagai kemungkinan destinasi, sekaligus bertanya kepada penonton mengenai kota yang sebaiknya mereka kunjungi berikutnya. Respons tersebut langsung disambut antusias oleh penggemar yang meneriakkan berbagai nama kota.
Momen unik lainnya terjadi ketika M. Shadows membantu seorang penggemar mengumumkan gender reveal dari atas panggung. Interaksi tersebut menghadirkan sisi personal di tengah pertunjukan musik yang penuh energi.
Malam Nostalgia yang Sulit Dilupakan
Konser Avenged Sevenfold di JIS membuktikan bahwa daya tarik band ini melampaui musik keras dan aksi panggung. Lagu-lagu legendaris, kejutan setlist, serta interaksi langsung menciptakan pengalaman emosional bagi para Deathbat.
Dari “Nightmare” yang membakar semangat hingga “Dear God” yang membangkitkan kenangan, konser 10 Oktober 2026 menjadi malam istimewa bagi penggemar Indonesia. Pertunjukan ini sekaligus meninggalkan harapan agar Avenged Sevenfold kembali menyapa penggemar di kota-kota lain Tanah Air.






